Your healthcare news library

Posts tagged ‘Kimia Farma’

Kimia Farma Amankan Kontrak

_1120439

 

JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil mendapat kontrak dari pemerintah untuk pengadaan obat-obatan generik dan kesehatan senilai 700 miliar rupiah. Perolehan kontrak itu diharapkan bisa menopang kinerja pendapatan Perseroan yang ditargetkan mencapai 4,2 triliun rupiah tahun ini.

Direktur Utama Kimia Farma, Rusdi Rosman, mengungkapkan pihaknya telah memenangi lelang untuk kategori pertama sebanyak 29 item dan kategori kedua 50 item. “Pada tahun ini, permintaan pemerintah yang kami menangi meningkat tiga kali lipat, nilainya sekitar 700 miliar rupiah,” katanya seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan beberapa mitra kerja di Jakarta, kemarin (27/5).

Untuk menopang peningkatan tersebut, dia mengaku pihaknya akan melanjutkan rencana pembangunan pabrik baru Perseroan di Banjaran, Jawa Barat. Pabrik itu ditargetkan mampu menambah kapasitas produksi perusahaan hingga lima kali lipat.

Rusdi menyebutkan, sebelumnya, perusahaan menganggarkan 400 miliar rupiah. Namun, anggaran meningkat karena harus memperhitungkan beberapa hal lain, seperti prakualifikasi World Health Organization (WHO) untuk memenuhi standar produk farmasi internasional. “Sebelumnya, kami tidak memperhitungkan biaya prakualifikasi ini,” ujar dia.

Dia memproyeksikan pabrik baru ini dapat beroperasi 1,5 tahun mendatang. Saat ini, perusahaan masih mengurus perizinan pembangunan pabrik. Adapun anggaran 760 miliar rupiah tersebut telah termasuk pembangunan pabrik herbal Fitofarmaka.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Produksi Kimia Farma, Jisman Siagian, menjelaskan pihaknya telah memenangi kontrak dari pemerintah lewat lelang online pada tahun ini senilai 650 miliar rupiah. Sebagian besar proyek tersebut ditujukan untuk pengadaan obat-obatan, terutama obat generik.

“Di luar itu, kita mungkin masih akan ikut beberapa tender untuk obat-obatan seperti HIV AIDS, atau proyek untuk bencana, tapi itu nilainya tidak akan terlalu besar,” jelas dia.

Meski tergolong besar, Jisman mengaku penjualan untuk obat-obat generik tidak terlalu memberi marjin besar bagi Perseroan. Dengan marjin bersih rata-rata 8 persen, proyek pemerintah tersebut akan bisa berkontribusi hingga 52 miliar rupiah terhadap laba Perseroan.

Seiring dengan perolehan kontrak tersebut, Jisman mengaku Perseroan semakin optimistis dengan target pendapatan tahun ini. “Kami optimistis pendapatan tahun ini bisa mencapai 4,2 triliun rupiah dengan laba bersih sekitar 230 miliar rupiah,” kata dia.

Target tersebut lebih tinggi dari target sebelumnya yang hanya memperkirakan pendapatan 2013 sebesar 4 triliun rupiah. Dengan penjualan sebesar 4,2 triliun rupiah tersebut, Kimia Farma akan mencatat pertumbuhan 12,6 persen dibandingkan realisasi pendapatan pada 2012 sebesar 3,73 triliun rupiah.

Kerja Sama

Kemarin, Kimia Farma telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan lembaga penelitan dan perguruan tinggi. Nantinya, Kimia Farma akan memanfaatkan hasil penelitian dari lembaga tersebut, dan sebaliknya, lembaga penelitian akan mendapat dukungan dana dari Kimia Farma.

Dalam penandatanganan tersebut, Kimia Farma akan menjalin kemitraan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Sekolah Farmasi ITB, dan PT Gama Multi Usaha Mandiri.

Rusdi mengaku sebagai BUMN farmasi yang bergerak dalam bidang produksi dan distribusi obat-obatan di Indonesia, Kimia Farma akan terus melakukan inovasi, baik dalam pengembangan produk maupun pengembangan jalur distribusi obat-obatan di Indonesia.

General Manager Kimia Farma, Agus Kisworo, mengaku pihaknya tetap konsisten dalam melakukan penelitian dan pengembangan (litbang). “Tiap tahun, kami menganggarkan sekitar 1 persen dari total penjualan untuk anggaran litbang, jadi tahun ini sekitar 40 miliar rupiah,” kata dia dalam kesempatan yang sama. nse/E-11

Koran Jakarta

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/120439

 

Kimia Farma genjot ekspor dari obat herbal

Kimia Farma genjot ekspor dari obat herbal

JAKARTA. Produsen farmasi nasional, PT Kimia Farma Tbk, akan membuat varian produk baru dengan bahan-bahan dari herbal. Cara ini dilakukan untuk menggenjot pendapatan dari hasil ekspor perusahaan yang ditargetkan mampu mencapai dua kali lipat pada tahun ini atau bisa mencapai Rp 28 miliar.

Direktur Utama Kimia Farma, Rusdi Rosman menyatakan, tahun lalu, Kimia Farma mampu mengekspor produk senilai Rp 14 miliar. “Target kami, tahun ini, minimal ekspor meningkat dua kali lipat,” katanya kepada KONTAN beberapa waktu lalu.

Dengan demikian, ekspor Kimia Farma tahun ini bisa mencapai Rp 28 miliar. Menurut Rusdi, tahun lalu, pihaknya telah membuat produk baru untuk kebutuhan ekspor. Produk tersebut hasil kerjasama dengan Universitas Padjadjaran, Bandung. “Kami mengembangkan obat herbal dari buah pala. Ini satu-satunya obat herbal untuk penyakit diabetes yang berasal dari buah. Nah, untuk obat herbal ini, kami akan ekspor ke Korea. Kami bisa lakukan tahun ini. Jumlahnya belum diestimasikan,” ucap dia.

Selain ekspor obat herbal sebagai penyembuh penyakit diabetes, Kimia Farma juga akan mengekspor orthosiphonis folium atau daun kumis kucing ke Jerman dan Korea. Daun ini berkhasiat mengobati batu ginjal.

Saat ini, Kimia Farma memiliki lahan seluas 5 hektare (ha) di daerah Banjaran, Jawa Barat, yang ditanami daun kumis kucing. “Tahun ini, kami targetkan semuanya untuk ekspor dan kuantitasnya mencapai 50 ton per bulan,” kata Rusdi.

Selain itu, kata Rusdi, pihaknya juga bakal meningkatkan kapasitas ekspor untuk kina dan yodium. Sebelumnya, pada 2011 lalu, Kimia Farma telah mengakuisisi PT Sinkona Indah Lestari (SIL), eksportir hasil olahan kina. “Kami ekspor kina ke Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Targetnya, tahun ini, ekspor dari olahan kina itu bisa tumbuh dua kali lipat,” ungkap dia.

Malaysia menghambat

Selain menambah varian produk, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Djoko Rusdianto menambahkan, pihaknya juga akan memperkuat jaringan layanan apotek di Malaysia dengan cara menggandeng mitra di sana.

Sebetulnya, kerjasama ini sudah dijalankan sejak akhir tahun 2011. Namun, hingga saat ini, apotek Kimia Farma belum juga berdiri.
Padahal, Kimia Farma sudah menggandeng Averros Pharmaceuticals Sdn Bhd untuk memuluskan langkah perusahaan membuka apotek di sana. Dengan kerjasama ini, Djoko berharap, Kimia Farma bisa mendapat 2% laba dari penjualan produk di sana.

Djoko berdalih, tidak apotek Kimia Farma belum beroperasi lantaran ada regulasi dari Pemerintah Malaysia yang mewajibkan apoteker dari Indonesia harus bergelar Ph.D. Syarat ini cukup memberatkan perusahaan. “Saat ini, kami masih melobi. Harapannya, kami bisa membuka apotek di sana pada semester I tahun ini. Sebab, nantinya apotek itu akan kami jadikan sarana distribusi untuk bisa memasarkan produk kami ke pasar Asia,” katanya.

Dengan berbagai strategi yang dilakukan perusahaan,  Kimia Farma berharap mampu mengejar target laba pada  2013 yang mencapai Rp 225 miliar. Sementara itu, pada 2012 lalu, laba Kimia Farma sebesar Rp 205,7 miliar atau naik 19,8% dibandingkan dengan laba 2011 yang hanya mencapai Rp 171,6 miliar.

Kenaikan laba Kimia Farma tahun lalu lebih banyak didorong oleh pertumbuhan penjualan yang mencapai 8% atau menjadi Rp 3,7 triliun. Di tahun 2011, total penjualan yang dibukukan oleh perusahaan pelat merah farmasi itu sebesar Rp 3,4 triliun.

Kontan – http://industri.kontan.co.id/news/kimia-farma-genjot-ekspor-dari-obat-herbal/2013/03/19

Rights issue Kimia Farma terganjal

Rights issue Kimia Farma terganjal

JAKARTA. Rencana PT Kimia Farma Tbk meraih dana segar melalui penerbitan saham baru atawa rights issue, tahun ini, kemungkinan bakal tertunda.
Awalnya, perusahaan farmasi pelat merah ini sudah mendapatkan restu dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Komite Privatisasi.

Jumlah penerbitan saham baru yang disetujui maksimal 20% dari modal disetor dan ditempatkan. Kimia Farma memperhitungkan, dari jumlah itu, nilai dana segar yang bisa diraup dari rights issue mencapai kisaran Rp 700 miliar. Manajemen sebelumnya optimistis, hajatan ini bisa digelar pada kuartal III tahun ini.

Namun, rencana ini terganjal izin dari parlemen. Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat-RI (DPR-RI) yang membawahi pengawasan perusahaan pelat merah, menunda pemberian restu bagi rights issue Kimia Farma.

Erik Satrya Wardhana, Wakil Ketua Komisi VI DPR menuturkan, penundaan tersebut dilakukan karena parlemen melihat ada beberapa kejanggalan dalam rencana penggunaan dana rights issue.

Yakni, terkait alokasi dana rights issue sebesar Rp 500 miliar yang direncanakan untuk renovasi pabrik. DPR menilai nilai itu terlalu besar.

Di sisi lain, Kimia Farma juga tidak menyertakan laporan studi kelayakan atas semua proyek ekspansi yang menggunakan dana rights issue.

Alhasil, parlemen meminta manajemen Kimia Farma untuk memperbaiki usulan rights issue tersebut. “Lebih baik terlambat sedikit tapi lebih sempurna, daripada terburu-buru tapi banyak salah,” kata Erik, Senin (9/7).

KONTAN sudah berupaya menghubungi manajemen Kimia Farma untuk mengonfirmasi hal ini. Namun, hingga berita ini ditulis, telpon dan pesan singkat KONTAN kepada Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman, belum juga dibalas.

Tertundanya rights issue ini sejatinya bisa berdampak buruk bagi realisasi rencana ekspansi perseroan. Berdasarkan catatan KONTAN, dana rights issue tersebut bakal menutupi sekitar 53,85% dari kebutuhan dana ekspansi perseroan selama dua tahun yang mencapai Rp 1,3 triliun.

Sisa kebutuhan dana akan ditutup dari kredit bank dan kas internal. Saat ini, Kimia Farma tengah memburu pinjaman bank senilai Rp 400 miliar. Beberapa bank yang sudah diajak bicara di antaranya Bank of Tokyo dan PT Bank Central Asia Tbk.

Anggaran ekspansi itu akan digunakan antara lain untuk perbaikan pabrik agar memenuhi standar yang dituntut, peningkatan volume produksi, juga penambahan produk baru seperti injeksi dan infus.

Ekspansi ini diharapkan bisa mendorong kinerja perseroan. Target penjualan tahun ini ditargetkan naik 14,91% menjadi Rp 4 triliun. Sedangkan target laba dikejar sebesar Rp 220 miliar.

Kontan

Kimia Farma Bangun RS Khusus Hati

JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengalokasikan dana sebesar Rp300 miliar untuk membangun rumah sakit khusus penyakit hati.

Pembangunan rumah sakit khusus ini dengan menggandeng PT Trasforma Indonesia melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture/ JV). Direktur Utama Kimia Farma M Sjamsul Arifin mengatakan, perseroan telah mengajukan izin pembentukan perusahaan patungan ke Kementerian Hukum dan HAM.“Kita sudah ajukan nama PT Kimia Farma Hospital namun diganti menjadi PT Kimia Farma Medika karena tidak boleh menggunakan bahasa Inggris,” kata dia dalam paparan publik di Jakarta kemarin.

Dia mengungkapkan, dalam perusahaan patungan tersebut, Kimia Farma sebagai pemilik mayoritas, yaitu mencapai 60%. Perseroan pada tahap awal akan membangun rumah sakit di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan. Targetnya, rumah sakit ini akan rampung pada akhir 2013. Setelah rumah sakit di Jakarta Selatan rampung, menyusul rumah sakit sejenis di sejumlah wilayah. “Kita punya lahan strategis, yang akan kita gunakan untuk membangun rumah sakit liver, di antaranya Makassar, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Medan,”imbuh Sjamsul.

Direktur Keuangan Kimia Farma Rusdi Rosman menambahkan, sumber pendanaan berasal dari perusahaan patungan dan akan mengeluarkan secara bertahap. Pada tahap pertama perseroan akan mengeluarkan dana sebesar Rp24 miliar. Dana tersebut di luar belanja modal (capital expenditure/ capex) perseroan tahun ini senilai Rp165 miliar. “Dalam RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan), capex tahun ini kita anggarkan sebesar Rp165 miliar.Namun, nilai itu di luar pengembangan rumah sakit,”ujar Rusdi.

Berdasarkan roadmap perusahaan, pengembangan sejumlah rumah sakit ini akan memberi kontribusi sekitar 10% terhadap pendapatan perusahaan. Selain membangun rumah sakit baru, perseroan berencana mengakuisisi sejumlah rumah sakit milik BUMN. Sementara, Kimia Farma pada kuartal I tahun ini berhasil mencatat pertumbuhan penjualan bersih sebesar 11,9% menjadi Rp709,84 miliar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp634,38 miliar.

Naiknya pendapatan mendorong naiknya laba bersih perseroan pada periode yang sama. Laba bersih perseroan tumbuh 27,4% menjadi Rp30,6 miliar dari posisi pada kuartal I tahun lalu senilai Rp24,02 miliar. Rusdi mengungkapkan, Kimia Farma pada tahun ini menargetkan penjualan mencapai Rp4 triliun dengan laba bersih Rp220 miliar. Jika rencana penggabungan (regrouping)dan penerbitan saham baru (rights issue) terealisasi tahun ini, kinerja perseroan tahun ini diperkirakan akan lebih tinggi.

Analis Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, pasar sangat menanti hasil regrouping BUMN di sektor farmasi tersebut. Apalagi diperkirakan, pasar kedua perusahaan akan sangat besar.

Eksplorasi Yodium, Kimia Farma dan Mitsui Corp Bermitra

Financeroll – Emiten farmasi milik negara, PT Kimia Farma Tbk (KAEF), berencana membentuk investasi patungan (joint venture) dengan konsorsium perusahaan Jepang yang dipimpin Mitsui Corporation tahun ini, menurut direksi perusahaan. Investasi patungan itu akan dilakukan untuk eksplorasi dan produksi yodium.

 

Nilai investasi joint venture itu diperkirakan mencapai US$ 90 juta untuk eksplorasi tambang yodium dengan kapasitas 500 ton per tahun. Joint venture tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi yodium Kimia Farma sekitar 10 kali lipat menjadi 500 ton dari 60 ton saat ini.

 

Mitsui Corporation juga akan menjadi pengguna hasil produksi yodium joint venture tersebut. Yodium dibutuhkan untuk cairan dalam layar liquid crystal display (LCD), katalisator industri, dan antiseptik di sektor farmasi. Saat ini permintaan yodium di Jepang meningkat signifikan setelah krisis Fukushima. Harga komoditas yodium di pasar internasional juga naik 100% menjadi US$ 80 per kilogram di 2011 dibanding 2010 sebesar US$ 40 per kilogram.

 

Kimia Farma saat ini tercatat menjadi produsen tunggal komoditas yodium di Indonesia dengan kapasitas 60 ton per tahun. Indonesia menjadi produsen yodium terbesar kelima di dunia, setelah Chile, Rusia, Amerika Serikat, dan Jepang.  (geng).

Read More: Finance Roll

 

Kimia Farma enters hospital business

State-owned pharmaceutical company PT Kimia Farma is moving from drugmaker to healthcare provider by establishing hospitals in anticipation of growing demand for services when the health insurance system is fully implemented in 2014.

Kimia Farma signed an agreement on Tuesday with PT Prakarsa Transforma Indonesia on the establishment of a subsidiary called PT Kimia Farma Hospital, which will run the hospital business.

Kimia Farma holds a 60 percent stake in the subsidiary.

“The new subsidiary will establish our first hospital, which will have a special liver center facility. We hope to start construction in April or May and to finish by the end of next year,” Kimia Farma president director Syamsul Arifin said.

The hospital will have about 200 rooms in a 14-story building, which will be built on Kimia Farma’s 14,000-square-meter plot on Jalan Saharjo, South Jakarta.

Syamsul said that investment for the hospital was estimated to reach Rp 280 billion (US$30 million), which would be supported by bank loans (70 percent) and Kimia Farma’s and Prakarsa Transforma internal cash (30 percent). According to Syamsul, several banks have offered financing for the hospital’s construction.

After the construction of the first hospital is completed, the joint venture will gradually build at least five more hospitals in Bandung, West Java; Makassar, South Sulawesi; Medan, South Sumatra; Semarang, Central Java; and Surabaya, East Java.

“Kimia Farma used to be only a pharmaceutical company. Now, we are a healthcare company with business interests ranging from drugstores, clinics and hospitals. Entering the hospital business is in anticipation of growing demand for medications when the social health insurance plan is implemented,” Syamsul said.

The Social Security Providers (BPJS) Law has mandated the establishment of a new health insurance company that would handle the universal health insurance system by 2014. The new health insurance system is expected to push up demand for healthcare services.

“We will maintain our pharmaceutical industry. Our hospitals will absorb our products, meaning that we will secure our presence in the market,” Syamsul said.

Besides establishing its own hospital, Kimia Farma is also planning to acquire several state-owned hospitals so that the new business line will contribute more to the company.

“We already have a list of possible hospitals. The acquisition will likely start next year,” Syamsul said, declining to provide further details on the names or number of hospitals to be acquired.

Syamsul said that Kimia Farma’s hospital chain was expected to contribute around 10 percent to the company’s future revenues.

“We need time to enjoy the return from our investment. We are targeting to see contributions from the hospitals within five years,” he said.

Syamsul said that Kimia Farma reaped Rp 3.48 trillion in revenues and Rp 171 billion in net profits last year. The company is aiming to book Rp 4 trillion in revenues and Rp 220 billion in net profits this year.

“These figures will change in line with our planned rights issue and merger with PT Indofarma,” Syamsul said.

Kimia Farma recently obtained approval from the State-Owned Enterprises Ministry to offload up to 20 percent of its enlarged capital in a rights share offering. Meanwhile, the Coordinating Economic Minister Hatta Rajasa, as chairman of the privatization committee, required the company to merge with Indofarma before performing the rights issue.

Read More: Jakarta Post

Tag Cloud